Pemahaman Konsep Penerapan Pendekatan, Strategi, Metode, dan Teknik Pembelajaran Scaffolding pada ZPD dalam Pendidikan di Indonesia

Oleh, Nur Afni Safarina

Mahasiswa PPG BK Prajabatan Gelombang 1 Tahun 2023

 

Pelaksanaan pembelajaran scaffolding pada ZPD tidak hanya sebatas pada starategi pembelajaran secara berkelompok, strategi belajar tutor sebaya, hingga pemberian bimbingan dari guru/pendidik melainkan juga mengandung makna, tujuan, hingga variasi praktik pelaksanaannya dalam proses pembelajaran. Kegiatan belajar memegang makna penting dalam membangun dasar orientasi masa depan peserta didik sehingga penting untuk mengembangkan aktivitas belajar yang sesuai dengan usia dan tingkat perkembangan (ZPD). Kegiatan belajar dapat berbentuk kegiatan-kegiatan koperatif yang mengutaman interaksi antar peserta didik dengan tidak mengenyampingkan pengembangan kompetensi peserta didik secara mandiri. Selain itu penting juga memperhatikan interaksi guru dengan peserta didik sebagai dasar terbentuknya kemampuan reflektif yang diperoleh anak dari orang yang lebih dewasa.

Penting bagi seorang pendidik untuk bisa memahami makna, tujuan, hingga variasi praktik pelaksanaan pembelajaran scaffolding pada ZPD yang meliputi pendekatan, strategi, metode hingga teknik dalam proses pembelajaran. Hal ini dilakukan agar guru dapat melaksanakan proses pembelajaran yang optimal karena sesuai dengan kebutuhan dan potensi yang dimiliki peserta didik. Terdapat perbedaan perspektif dalam memahami pendekatan, strategi, metode hingga teknik dalam pelaksanaan pembelajaran scaffolding pada ZPD yang  menjadikan saya dapat melihat lebih luas mengenai makna, tujuan hingga variasi pelaksanaan pembelajaran scaffolding pada ZPD.

Kegiatan belajar memegang makna penting dalam membangun dasar orientasi masa depan peserta didik sehingga penting untuk mengembangkan aktivitas belajar yang sesuai dengan usia dan tingkat perkembangan (ZPD). Kegiatan belajar dapat berbentuk kegiatan-kegiatan koperatif yang mengutaman interaksi antar peserta didik dengan tidak mengenyampingkan pengembangan kompetensi peserta didik secara mandiri. Selain itu penting juga memperhatikan interaksi guru dengan peserta didik sebagai dasar terbentuknya kemampuan reflektif yang diperoleh anak dari orang yang lebih dewasa. Oleh karena itu, perlu diingat bahwa pelaksanaan pembelajaran scaffolding pada ZPD tidak hanya sebatas pada starategi pembelajaran secara berkelompok, strategi belajar tutor sebaya, hingga pemberian bimbingan dari guru/pendidik melainkan memiliki makna, tujuan, hingga variasi praktik pelaksanaannya dalam proses pembelajaran dengan memperhatikan kondisi dan kebutuhan peserta didik dengan zona perkembangan yang berbeda-beda.

Materi mata kuliah perspektif sosiokultural ini saling berketerkaitan dengan beberapa materi pada mata kuliah lain yang dapat dijelaskan sebagai berikut. Pertama, pada mata kuliah filosofi pendidikan, pelaksanaan pembelajaran sesuai ZPD merupakan bentuk implementasi  pendidikan yang berpihak dan memerdekakan peserta didik. Kedua, pada mata kuliah pemahaman peserta didik, dalam mengembangkan Rencana Pelaksanaan Layanan (RPL), guru BK perlu memperhatikan pendekatan, strategi, metode, dan teknik layanan yang akan diterapkan. Ketiga, pada mata kuliah asesmen, Need Asesment digunakan sebagai langkah awal dalam memetakan kemampuan dan kesiapan belajar peserta didik untuk menentukan pendekatan, strategi, metode, dan teknik pembelajaran yang sesuai. Keempat, pada mata kuliah pembelajaran berdiferensiasi, upaya membantu peserta didik dalam penerapan pembelajaran berdiferensiasi dapat dilakukan dengan teknik Scaffolding pada ZPD. Keempat mata kuliah tersebut saling berkaitan dan terhubung dengan pendekatan, strategi, metode, dan teknik pembelajaran yang diterapkan sebagai Scaffolding pada ZPD dalam pendidikan di Indonesia pada mata kuliah perspektif sosiokultural.

Setelah memahami topik ini, pendidik diharapkan dapat memperoleh wawasan dan pengetahuan tambahan mengenai yang dapat meningkatkan kesiapan saya sebagai seorang calon pendidik profesional, yaitu mengembangkan pendekatan, strategi, metode, dan teknik pembelajaran yang diterapkan sebagai Scaffolding pada ZPD dalam pendidikan di Indonesia. Selain itu pendidik juga dapat mempelajari makna penting dalam membangun dasar orientasi masa depan peserta didik untuk mengembangkan aktivitas belajar yang sesuai dengan usia dan tingkat perkembangan (ZPD), mendorong kegiatan-kegiatan koperatif yang mengutamakan interaksi antar peserta didik dengan tidak mengenyampingkan pengembangan kompetensi peserta didik secara mandiri, serta  memperhatikan interaksi guru dengan peserta didik sebagai dasar terbentuknya kemampuan reflektif yang diperoleh anak dari orang yang lebih dewasa.

Setelah memahami topik ini, sebagai seorang pendidik perlu  mempelajari lebih lanjut mengenai bagaimana proses pengembangan ide/konsep hingga mengeksekusi ide-ide tersebut menjadi tindakan nyata yang dilakukan guru untuk melaksanakan pendekatan, strategi, metode hingga teknik dalam suatu proses pembelajaran. Hal ini bisa dilakukan dengan berusaha mengidentifikasi dan memahami kondisi dan kebutuhan belajar peserta didik, serta menumbuhkan interaksi antar peserta didik baik dengan diskusi kelompok maupun dengan tutor teman sebaya. Selain itu juga menambah pengetahuan dan meningkatkan keterampilan dalam mengembangkan pendekatan, strategi, metode, dan teknik pembelajaran yang diterapkan sebagai Scaffolding pada ZPD baik dengan menambah sumber bacaaan lain maupun mengikuti seminar dan pelatihan.   

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pentingnya memahami “Zone of Proximal Development” (ZPD) pada Peserta Didik sebagai Bahan Pertimbangan dalam Menentukan Strategi Pembelajaran

Peran Teknologi Informasi dan Media dalam Layanan Bimbingan dan Konseling