Refleksi Pendidikan dan Pengajaran menurut Pemikiran Ki Hajar Dewantara dan Gambaran Pembelajaran Merdeka Belajar

Oleh, Nur Afni Safarina

Mahasiswa PPG Prajabatan 2023 Gelombang 1

Pada awalnya, saya percaya bahwa capaian utama dalam pelaksanaan pembelajaran adalah hasil pengetahuan dan pemahaman yang diperoleh peserta didik dalam bentuk skor atau nilai raport. Menurut saya pelaksanaan pembelajaran dapat dilakukan dengan cara dan metode yang sama untuk mengetahui capaian tujuan masing-masing peserta didik. Guru cukup menyampaikan pembelajaran berdasarkan materi yang ada di buku untuk diberikan kepada peserta didik. Perspektif saya terhadap kemampuan peserta didik adalah bahwa masing-masing dari mereka memiliki kemampuan dan potensi yang homogen/sama antara satu sama lain. Sedangkan yang menjadi pembeda adalah usaha dan kesungguhan mereka (peserta didik) untuk belajar. Saya juga tidak memiliki gambaran akan pengaruh perspektif sosiokultural di sekitar lingkungan peserta didik terhadap pembentukan karakteristik dan sudut pandang mereka terhadap pendidikan.

Pemahaman saya lalu berubah ketika saya mempelajari pemikiran Ki Hajar Dewantara mengenai pengajaran dan pendidikan. Saya kemudian sadar bahwasannya yang saya pahami selama ini hanyalah sebatas definisi pengajaran, belum sampai pada definisi pendidikan yang sebenarnya. Menurut KHD, pengajaran (onderwijs) adalah bagian dari Pendidikan. Pengajaran merupakan bagian dari proses Pendidikan dalam memberi ilmu atau berfaedah untuk kecakapan hidup anak secara lahir dan batin. Sedangkan Pendidikan (opvoeding) memberi tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar ia mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai seorang manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Pengajaran dan pendidikan berguna untuk memerdekakan manusia sebagai bagian dari persatuan (rakyat). Manusia merdeka adalah manusia yang hidupnya lahir atau batin tidak tergantung pada orang lain, akan tetapi bersandar atas kekuatan sendiri. Pendidikan menciptakan ruang bagi peserta didik untuk bertumbuh secara utuh agar mampu memuliakan dirinya dan orang lain (merdeka batin) dan menjadi mandiri (merdeka lahir). Tujuan pendidikan yaitu menuntun dan membantu peserta didik agar dapat mengembangkan potensinya secara optimal. Oleh sebab itu, pendidik seharusnya dapat melaksanakan pembelajaran yang sesuai dan berpihak dengan potensi dan kebutuhan peserta didik.

KHD mengibaratkan peran pendidik seperti seorang petani atau tukang kebun. Anak-anak itu seperti biji tumbuhan yang disemai dan ditanam oleh pak tani atau pak tukang kebun di lahan yang telah disediakan. Bila biji jagung ditempatkan di tanah yang subur dengan mendapatkan sinar matahari dan pengairan yang baik maka meskipun biji jagung adalah bibit jagung yang kurang baik (kurang berkualitas) dapat tumbuh dengan baik karena perhatian dan perawatan dari pak tani dan begitupun sebaliknya. Dalam proses “menuntun”, pendidik memberikan anak diberi kebebasan dalam belajar, dan pendidik sebagai ‘pamong’ memberi tuntunan dan arahan agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Seorang ‘pamong’ dapat memberikan ‘tuntunan’ agar anak dapat menemukan kemerdekaannya dalam belajar. Untuk bisa memahami karakter dan kebutuhan anak yang dituntun, maka pendidik juga perlu memperhatikan dan memahami bagaimana latar belakang perspektif sosiokultural yang meliputi faktor sosial, budaya, ekonomi, dan politik di lingkungan tempat anak itu tumbuh.

KHD menegaskan juga untuk mendidik anak-anak dengan cara yang sesuai dengan tuntutan alam dan zamannya sendiri. Artinya, cara belajar dan interaksi murid Abad ke-21, tentu sangat berbeda dengan para peserta didik pertengahan dan akhir abad ke-20. Pendidik juga perlu mengutamakan pendidikan budi pekerti, yaitu watak atau karakter individu sebagai perpaduan antara Cipta (kognitif), Karsa (afektif) sehingga menciptakan Karya (psikomotor). Keluarga sebagai sebuah ekosistem kecil untuk mempersiapkan hidup anak dalam bermasyarakat menjadi tempat yang utama dan paling baik untuk melatih kecerdasan budi pekerti, sosial, dan karakter bagi anak.

Pemahaman dan perilaku yang dapat saya terapkan setelah merefleksikan pemikiran Ki Hadjar Dewantara adalah melaksanakan pembelajaran yang memaknai tujuan pendidikan yang sebenarnya, tidak hanya sebatas pada pengajaran. Hal tersebut dapat saya implementasikan dalam bentuk pembelajaran yang berdiferensiasi dimana dalam melaksanakan proses pembelajaran saya perlu memperhatikan ragam konten/isi, proses, produk, dan lingkungan belajar yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan peserta didik dengan kemampuan, minat, kesiapan belajar, dan latar belakang perspektif sosiokultural yang berbeda-beda. Sebagai contoh, suatu pelaksanaan layanan bimbingan memfokuskan pada materi di bidang perencanaan karir karena sesuai dengan kondisi peserta didik di sekolah kejuruan yang mayoritas berasal dari kalangan ekonomi menengah dan ingin langsung bekerja setelah lulus sekolah. Media layanan yang digunakan berupa video dan ppt yang dapat memenuhi kebutuhan gaya belajar peserta didik yang beragam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pentingnya memahami “Zone of Proximal Development” (ZPD) pada Peserta Didik sebagai Bahan Pertimbangan dalam Menentukan Strategi Pembelajaran

Peran Teknologi Informasi dan Media dalam Layanan Bimbingan dan Konseling

Pemahaman Konsep Penerapan Pendekatan, Strategi, Metode, dan Teknik Pembelajaran Scaffolding pada ZPD dalam Pendidikan di Indonesia