Refleksi Status Sosial Ekonomi dalam Perspektif Sosiokultural dan Kaitannya dengan Pendidikan Indonesia.

Oleh, Nur Afni Safarina

Mahasiswa PPG Prajabatan Gelombang 1 Tahun 2023



Dalam penyelenggaraan pendidikan, faktor sosial, budaya, politik, dan ekonomi berperan penting dalam kontribusi terhadap pembentukan karakteristik peserta didik dan kondisi lingkungan belajar di sekitarnya. Masing-masing daerah, dengan ciri khasnya masing-masing tentu memerlukan pendekatan yang berbeda dalam sistem penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran di dalamnya. Setiap budaya memiliki situasi psikologis tersendiri yang sedikit banyak mempengaruhi fungsi kognitif menjadi spesifik bagi masing-masing individu. Pendidikan dan kebudayaan memiliki keterkaitan yang sangat erat, di mana pendidikan dan kebudayaan berbicara pada tataran yang sama, yaitu nilai-nilai. Dengan mempelajari perspektif sosiokultural. maka seorang pendidik dapat lebih bijak dalam memandang setiap perbedaan/ciri khas/karakteristik peserta didik sebagai dampak dari faktor-faktor-faktor di sekelilingnya. Selain itu, pendidik juga dapat mengembangkan pembelajaran yang lebih berdiferensiasi sesuai dengan latar peserta didik yang beragam.

Kondisi sosial ekonomi dimana individu tumbuh dapat menjadi sarana atau alat perkembangan yang mempengaruhi sikap, nilai, dan keterampilan kognitif dan linguistik. Seorang anak mengembangkan kompetensi melalui berbagai pola interaksi orang dewasa-anak dan interaksi sosial lainnya yang struktur keluarga, nilai, dan tuntutan tugas yang secara historis tertanam. Status Sosial Ekonomi (SES) mempengaruhi sudut pandang individu terhadap makna dan nilai pendidikan. Dalam proses pengajaran, memahami SES peserta didik menjadi penting karena dengan itu saya dapat mengetahui lingkungan tumbuh disekitar peserta didik yang mempengaruhi perspektif dan komitmen mereka akan pendidikan. Sehingga dengan bekal pengetahuan tersebut saya juga dapat mengembangkan strategi yang tepat untuk membantu peserta didik tumbuh dan berkembang.

Teori sosiokultural sebagai alat psikologis bermakna bahwa faktor-faktor sosiokultural disekitar individu dapat memberikan gambaran mengenai kondisi/karakteristik psikologis individu tersebut. Teori sosiokultural menempatkan lingkungan sosial sebagai faktor primer dan konstitutif terhadap pembentukan pengetahuan serta perkembangan kognitif seseorang Sedangkan teori sosiokultural sebagai mediasi memiliki makna bahwa tanda-tanda atau lambang-lambang sebagai bagian dari budaya yang digunakan seseorang untuk memahami sesuatu di luar pemahamannya. Ada dua jenis mediasi yang dapat mempengaruhi pembelajaran yaitu, mediator berupa manusia dan mediator berupa simbol. Rogoff membedakan tiga aspek atau strata mediasi melalui manusia, yaitu magang, partisipasi terbimbing, dan apropriasi.

Kedua konsep tersebut memberikan kontribusi bagi guru/pendidik untuk bisa lebih memahami lingkungan dan latar belakang sosiokultural peserta didik. Dengan begitu, guru dapat memberikan pembelajaran dan pengajaran yang sesuai dengan perspektif sosiokultural peserta didik. Dalam konteks pengajaran dan pembelajaran di Indonesia, konsep teori sosiokultural terutama yang berkaitan status sosial ekonomi diterapkan kedalam kurikulum merdeka yang konteks pengajaran dan pembelajarannya berpihak pada peserta didik. Guru sebagai tenaga pendidik dan pengajar dituntut untuk selalu inovatif kreatif dalam menciptakan pembelajaran yang mempertimbangkan perspektif sosiokultural karena masing-masing individu memiliki karakteristik yang berbeda, dipengaruhi oleh kondisi lingkungan disekitarnya dengan beragam faktor sosiokultural didalamnya.

Pembelajaran yang saya pahami dari topik ini adalah pengaruh status sosiekonomi dalam membentuk lingkungan di sekitar individu, mempengaruhi pola interaksi dan sudut pandangnya terhadap makna dan nilai pendidikan. Pengetahuan baru yang saya peroleh dari topik ini adalah bahwa pengaruh perspektif sosiokultural disekitar individu tidak hanya menjadi motivasi eksternal yang mempengaruhi kondisi lingkungan di sekitar individu, akan tetapi juga menjadi nilai-nilai yang diinternalisasi dan dimaknai secara mendalam oleh individu. Lebih lanjut, saya ingin mempelajari bagaimana peran lingkungan dalam membentuk karakter peserta didik, mampukah lingkungan pendidikan (sekolah) mengubah nilai-nilai individu yang telah terbentuk dari lingkungan sekitarnya menjadi karakter individu yang menginternalisasi budaya sekolah.

Setelah memahami konsep teori sosiokultural terutama mengenai status sosioekonomi dan bagaimana pengaruhnya terhadap perspektif peserta didik tentang pendidikan, saya merasa semakin bersemangat menyiapkan diri saya sebagai guru. Hal ini dikarenakan saya menyadari masih banyak wawasan dan pengetahuan yang dapat meningkatkan keterampilan saya sebagai guru nantinya. Sebagai calon guru, mempelajari teori sosiokultural berperan penting dalam mengembangkan sudut pandang saya terhadap karakteristik dan kebutuhan peserta didik. Selain itu, saya juga dapat menjadikan perspektif-perspektif sosiokultural peserta didik sebagai bahan dalam menentukan pendekatan-pendekatan dan strategi pembelajaran yang sesuai dan tujuan yang realistis.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pentingnya memahami “Zone of Proximal Development” (ZPD) pada Peserta Didik sebagai Bahan Pertimbangan dalam Menentukan Strategi Pembelajaran

Peran Teknologi Informasi dan Media dalam Layanan Bimbingan dan Konseling

Pemahaman Konsep Penerapan Pendekatan, Strategi, Metode, dan Teknik Pembelajaran Scaffolding pada ZPD dalam Pendidikan di Indonesia